Showing posts with label Ganyang Malaysia. Show all posts
Showing posts with label Ganyang Malaysia. Show all posts

Wednesday, September 16, 2009

Ganyang Malaysia!!!

id.wikipedia.org/wiki/Konfrontasi_Indonesia-Malaysia - Cached - Similar -



Konfrontasi Indonesia-Malaysia atau yang lebih dikenal sebagai Konfrontasi saja adalah sebuah perang mengenai masa depan pulau Kalimantan, antara Malaysia dan Indonesia pada tahun 1962-1966.

Perang ini berawal dari keinginan Malaysia untuk menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak dengan Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961. Keinginan itu ditentang oleh Presiden Soekarno yang menganggap Malaysia sebagai "boneka" Britania.


Latar belakang:-

Pada 1961, Kalimantan dibagi menjadi empat administrasi. Kalimantan, sebuah provinsi di Indonesia, terletak di selatan Kalimantan. Di utara adalah Kerajaan Brunei dan dua koloni Inggris; Sarawak dan Britania Borneo Utara, kemudian dinamakan Sabah. Sebagai bagian dari penarikannya dari koloninya di Asia Tenggara, Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan Semenanjung Malaya untuk membentuk Malaysia.

Rencana ini ditentang oleh Pemerintahan Indonesia;

Presiden Soekarno berpendapat bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris
, dan konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia. Filipina juga membuat klaim atas Sabah, dengan alasan daerah itu memiliki hubungan sejarah dengan Filipina melalui Kepulauan Sulu.

Di Brunei, Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) memberontak pada 8 Desember 1962. Mereka mencoba menangkap Sultan Brunei, ladang minyak dan sandera orang Eropa. Sultan lolos dan meminta pertolongan Inggris. Dia menerima pasukan Inggris dan Gurkha dari Singapura. Pada 16 Desember, Komando Timur Jauh Inggris (British Far Eastern Command) mengklaim bahwa seluruh pusat pemberontakan utama telah diatasi, dan pada 17 April 1963, pemimpin pemberontakan ditangkap dan pemberontakan berakhir.

Filipina dan Indonesia resminya setuju untuk menerima pembentukan Malaysia apabila mayoritas di daerah yang ribut memilihnya dalam sebuah referendum yang diorganisasi oleh PBB. Tetapi, pada 16 September, sebelum hasil dari pemilihan dilaporkan. Malaysia melihat pembentukan federasi ini sebagai masalah dalam negeri, tanpa tempat untuk turut campur orang luar, tetapi pemimpin Indonesia melihat hal ini sebagai perjanjian yang dilanggar dan sebagai bukti imperialisme Inggris.

“ Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, ketika para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tunku Abdul Rahman—Perdana Menteri Malaysia saat itu—dan memaksanya untuk menginjak Garuda, amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak. ”

Soekarno yang murka karena hal itu mengutuk tindakan Tunku yang menginjak-injak lambang negara Indonesia dan ingin melakukan balas dendam dengan melancarkan gerakan yang terkenal dengan GANYANG MALAYSIA!
Soekarno menyaatakan PERANG!
Pada 20 Januari 1963, Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio mengumumkan bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia. Pada 12 April, sukarelawan Indonesia (sepertinya pasukan militer tidak resmi) mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan sabotase. Pada 27 Juli, Sukarno mengumumkan bahwa dia akan meng-"ganyang Malaysia". Pada 16 Agustus, pasukan dari Rejimen Askar Melayu DiRaja berhadapan dengan lima puluh gerilyawan Indonesia.

Meskipun Filipina tidak turut serta dalam perang, mereka memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia.

Federasi Malaysia resmi dibentuk pada 16 September 1963. Brunei menolak bergabung dan Singapura keluar di kemudian hari.

Ketegangan berkembang di kedua belah pihak Selat Malaka. Dua hari kemudian para kerusuhan membakar kedutaan Britania di Jakarta. Beberapa ratus perusuh merebut kedutaan Singapura di Jakarta dan juga rumah diplomat Singapura. Di Malaysia, agen Indonesia ditangkap dan massa menyerang kedutaan Indonesia di Kuala Lumpur.

Di sepanjang perbatasan di Kalimantan, terjadi peperangan perbatasan; pasukan Indonesia dan pasukan tak resminya mencoba menduduki Sarawak dan Sabah, dengan tanpa hasil.

Pada 1964 pasukan Indonesia mulai menyerang wilayah di Semenanjung Malaya. Di bulan Agustus, enam belas agen bersenjata Indonesia ditangkap di Johor. Aktivitas Angkatan Bersenjata Indonesia di perbatasan juga meningkat. Tentera Laut DiRaja Malaysia mengerahkan pasukannya untuk mempertahankan Malaysia. Tentera Malaysia hanya sedikit saja yang diturunkan dan harus bergantung pada pos perbatasan dan pengawasan unit komando. Misi utama mereka adalah untuk mencegah masuknya pasukan Indonesia ke Malaysia. Sebagian besar pihak yang terlibat konflik senjata dengan Indonesia adalah Inggris dan Australia, terutama pasukan khusus mereka yaitu Special Air Service(SAS). Tercatat sekitar 2000 pasukan khusus Indonesia (Kopassus) tewas dan 200 pasukan khusus Inggris/Australia (SAS) juga tewas setelah bertempur dibelantara kalimantan (Majalah Angkasa Edisi 2006).

Pada 17 Agustus pasukan terjun payung mendarat di pantai barat daya Johor dan mencoba membentuk pasukan gerilya. Pada 2 September 1964 pasukan terjun payung didaratkan di Labis, Johor. Pada 29 Oktober, 52 tentara mendarat di Pontian di perbatasan Johor-Malaka dan ditangkap oleh pasukan Resimen Askar Melayu DiRaja dan Selandia Baru dan bakinya ditangkap oleh Pasukan Gerak Umum Kepolisian Kerajaan Malaysia di Batu 20, Muar, Johor.

Ketika PBB menerima Malaysia sebagai anggota tidak tetap. Sukarno menarik Indonesia dari PBB pada tanggal 20 Januari 1965 dan mencoba membentuk Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Forces, Conefo) sebagai alternatif.

Sebagai tandingan Olimpiade, Soekarno bahkan menyelenggarakan GANEFO (Games of the New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Senayan, Jakarta pada 10-22 November 1963. Pesta olahraga ini diikuti oleh 2.250 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika Selatan, serta diliput sekitar 500 wartawan asing.

Pada Januari 1965, Australia setuju untuk mengirimkan pasukan ke Kalimantan setelah menerima banyak permintaan dari Malaysia. Pasukan Australia menurunkan 3 Resimen Kerajaan Australia dan Resimen Australian Special Air Service. Ada sekitar empat belas ribu pasukan Inggris dan Persemakmuran di Australia pada saat itu. Secara resmi, pasukan Inggris dan Australia tidak dapat mengikuti penyerang melalu perbatasan Indonesia. Tetapi, unit seperti Special Air Service, baik Inggris maupun Australia, masuk secara rahasia (lihat Operasi Claret). Australia mengakui penerobosan ini pada 1996.

Pada pertengahan 1965, Indonesia mulai menggunakan pasukan resminya. Pada 28 Juni, mereka menyeberangi perbatasan masuk ke timur Pulau Sebatik dekat Tawau, Sabah dan berhadapan dengan Resimen Askar Melayu Di Raja dan Kepolisian North Borneo Armed Constabulary.

*********

Malaysia bakal diserang Oktober ini



JAKARTA, Sept 10 — Malaysian and Indonesian foreign ministers will meet here next Thursday to try to calm tensions sparked by vigilante squads that have targeted Malaysians working here and called for war against Malaysia.Datuk Anifah Aman and Hassan Wirajuda will hold discussions against the backdrop of virulent protests against Malaysia’s alleged “theft” of a traditional Balinese dance.

The spat took a frightening turn on Tuesday when a vigilante group called the Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) blocked a road in the plush Menteng district in a hunt for Malaysians.

About 50 men armed with bambu runcing — sharpened bamboo poles —stopped motorists and demanded their identity cards. Police were called in and they broke up the group within an hour. The incident occurred a week after protesters, vowing to “crush Malaysia”, burned Malaysian flags and pelted the Malaysian Embassy in Jakarta with rotten eggs.

Malaysia’s foreign minister told other ministers about the troubles and his planned meeting with his Indonesian counterpart at the weekly Cabinet meeting chaired by Prime Minister Najib Razak yesterday.

Najib said yesterday that Indonesia’s Ambassador to Malaysia Da’iBachtiar had assured him the Indonesian government would ensure the safety of Malaysians.

The Malaysian Students Department, meanwhile, sent text messages telling students to be careful and to avoid Jalan Deponegoro, where the vigilante group confronted motorists and has its headquarters.

Bernama also reported that demonstrators had thrown rotten eggs at a house rented by Malaysian students of Gadja Mada University in Yogyakarta, Central Java, raising fears over the safety of Malaysians.
Anifah told The Star daily yesterday: “When I meet my Indonesian counterpart, I will express Malaysia’s concern and want assurances that the Indonesian authorities can guarantee the safety of Malaysians over there.”

Indonesia’s Foreign Ministry spokesman Teuku Faiza syah, who confirmed that a meeting between the two ministers was being arranged,said Jakarta was obliged to ensure the security of foreign citizens.

“We condemn all acts of intimidation against foreign nationals in the country,” he told The Straits Times. “In fact, we told the police to enforce the law against the vigilante groups.”

It was unfortunate, he said, that the incident happened but he was confident that ties between the two countries remained strong. “It’s important that we keep the communication channels open between the two governments so that issues can be clarified and the problems managed,”he added.

Indonesian legislator Yusron Ihza Mahendra said he was concerned that the incidents in Indonesia could spark a reaction against some 2million Indonesians working in Malaysia. “It is not about who is brave enough to confront Malaysians face to face,” he told the Jakarta Globe yesterday. “It is about our people who may become victims of such careless actions.”

Bendera’s leader, Muchtar Bonaventura, said: “In so many ways,Malaysia has stolen from us and insulted Indonesia. We feel offended and angry.”

He accused the Indonesian government of being soft, saying nationalists like him were forced to act on their own to uphold thecountry’s honour and sovereignty.

“We are going to organise more actions against the Malaysians in the next few days. This may include declaring war against them,” he said.He claimed about 500 volunteers had signed up and were ready to go to war against Malaysia.

“We have started gathering weapons like samurai swords and ninja throwing stars and conducting military training for our volunteers who will go and fight in Malaysia in October,” he said. — The Straits Times


Awards Showcase