Tuesday, March 29, 2011

Lee Kuan Yew menuduh banyak ketidakadilan berlaku di Malaysia

SATURDAY, SEPTEMBER 18, 2010


New York Times keluaran 1 September lalu melaporkan Lee melemparkan tuduhan kepada Malaysia dengan mendakwa terlalu banyak ketidakadilan berlaku di negara ini dengan bukan Melayu diketepikan, selain warga Malaysia dipisahkan oleh sistem persekolahan, kawasan perumahan dan tidak bercampur gaul.

Senario itu, katanya, berbeza dengan orang Melayu Singapura yang mendapat pendidikan Inggeris dan lebih ‘moden’ berbanding Melayu di Malaysia.

Malah, Lee mendakwa penggunaan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar di sekolah menyebabkan bukan Melayu terpaksa menempatkan anak mereka di sekolah bukan milik kerajaan. Lee turut membayangkan Malaysia mungkin lebih baik jika tidak terpisah dengan Singapura kerana republik itu kini telah mencapai tahap yang membanggakan dalam hubungan kaum.

Bekas Perdana Menteri, Tun Abdullah Ahmad Badawi berkata Malaysia tidak perlukan nasihat Menteri Mentor Singapura, Lee Kuan Yew kerana mempunyai cara tersendiri dalam mentadbir negara yang penduduknya terdiri daripada pelbagai kaum.

Beliau berkata kepelbagaian dan komposisi kaum serta adat resam masyarakat di Malaysia jauh berbeza dengan Singapura.

"Kita jauh berbeza dengan Singapura dan kenyataan Lee yang mengkritik sistem diamalkan di negara ini tidak boleh diterima kerana Malaysia menggunakan langkah dan kaedah yang berlainan dalam menguruskan hal berkaitan budaya serta perbezaan agama pelbagai kaum," katanya.

Persoalan yang timbul adalah kenapakah Lee masih mempedulikan tentang hal dalaman Malaysia? Adakah Lee menjadi jurucakap kepada Cina di Malaysia yang memperjuangkan ideologi PAP iaitu Malaysian Malaysia? Adakah perjuangan ideologi tersebut sudah tidak mendapat sambutan oleh rakyat Malaysia walaupun ianya diperjuangkan bersungguh-sungguh oleh suku sakat Lee iaitu DAP?

Hubungan kaum yang baik bagi pandangan Lee adalah apabila Cina menguasai segala-galanya dari segi ekonomi, kuasa politik, kekayaan negara, pentadbiran kerajaan, ketenteraan dan sebagainya. Lihatlah apa yang berlaku kepada orang-orang Melayu di Singapura? Adakah mereka diberi keadilan yang sebenar? Masih adakah suara orang Melayu di Singapura? Mereka ditekan secara halus sehinggakan menjadi semakin lemah tidak bermaya.

Strategi menekan cara halus turut dilakukan oleh DAP dan Cina di Pulau Pinang apabila tanah-tanah orang Melayu di sebelah pulau dibeli dengan harga yang tinggi untuk menggalakkan orang Melayu menjual tanah-tanah mereka. Kemudian didirikan hartanah yang dijual pula dengan harga yang tinggi sehinggakan orang Melayu tidak mampu membelinya. Sebaliknya hartanah di tanah besar seperti di Kulim dijual dengan harga jauh lebih rendah menyebabkan orang-orang Melayu Pulau Pinang berpindah ke Kedah menyebabkan jumlah orang Melayu di Pulau Pinang semakin berkurangan dan bilangan orang Cina pula yang bertambah. Apakah ini merupakan strategi menjadikan Pulau Pinang sebagai Singapura Kedua?

Apapun alasan Lee, biarlah Malaysia bergerak dengan cara kita, mana-mana yang baik yang boleh dijadikan panduan kita akan ambil. Saya secara peribadi bersetuju dengan Lee dalam sistem persekolahan di Malaysia. Kita sepatutnya hanya mempunya sekolah kebangsaan dan sekolah-sekolah Cina dan Tamil sepatutnya dihapuskan. Tetapi bila berkaitan dengan ideologi, eloklah Lee simpan saja kerana itulah menyebabkan Singapura ditendang keluar dari Malaysia dahulu. Kita bercerai tanpa ada anak pinak yang perlu dijaga bersama, anak-anak yang kita ada sekarang adalah bukan anak Lee. Tahulah kita menjaganya.

Monday, March 28, 2011

Mitos disekitar keberadaan Kucing

Mitos disekitar keberadaan Kucing

Banyak mitos yang tercipta tentang kucing. Di Mesir, 3000 tahun yang lalu, kucing dianggap sebagai titisan dewa. Sedangkan, di Eropa kucing dianggap sebagai sihir setan atau pembawa bencana. Tak pelak lagi, pada masa abad kegelapan terjadi pemusnahan besar-besaran terhadap hewan lucu ini, hingga menyebar ke Afrika Utara. Padahal, wabah yang oleh masyarakat saat itu dianggap sebagai kutukan adalah jenis penyakit pes yang diakibatkan oleh meledaknya populasi tikus dan penurunan populasi kucing sebagai predator.

Cerita Nabi Muhammad SAW dan Kucingnya.

Diceritakan dalam suatu kisah, Nabi Muhammad SAW memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza. Suatu saat, dikala nabi hendak mengambil jubahnya, di temuinya Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai diatas jubahnya. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduri mueeza dari jubahnya. Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk kepada majikannya. Sebgai balasan, nabi menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu.

Dalam aktivitas lain, setiap kali Nabi menerima tamu di rumahnya, nabi selalu menggendong mueeza dan di taruh dipahanya. Salah satu sifat Mueeza yang nabi sukai ialah, ia selalu mengeong ketika mendengar azan, dan seolah-olah suaranya terdengar seperti mengikuti lantunan suara adzan. Bahkan kepada para sahabatnya, nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan layaknya menyanyangi keluarga sendiri.

Hukuman bagi mereka yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah serius, dalam sebuah hadist shahih Al bukhori, dikisahkan tentang seorang wanita yang tidak pernah memberi makan kucingnya, dan tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan sendiri, Nabi SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini adalah siksa neraka.
Beberapa diantara orang terdekat nabi juga memelihara kucing. Aisyah binti abubakar shiddiq, istri nabi amat menyayangi kucing, dan merasa amat kehilangan dikala ditinggal pergi oleh si kucing. Abdurrahman bin sakhr al Azdi. diberi julukan Abu huruyrah (bapak para kucing jantan), karena kegemarannya dalam merawat dan memelihara berbagai kucing jantan dirumahnya.

Penghormatan para tokoh islam terhadap kucing pasca wafatnya Nabi SAW.

Dalam buku yang berjudul Cats of Cairo, Baybars al zahir, seorang sultan dari dinasti mamluk yang terkenal tegas dan berani, ternyata sangat menyayangi kucing. Bahkan al zahir sengaja membangun taman-taman khusus bagi kucing dan menyediakan berbagai jenis makanan didalamnya.
Tradisi ini akhirnya menjadi adat istiadat di berbagai kota-kota besar negara islam. Hingga saat ini, mulai dari damaskus, istanbul, hingga kairo, masih bisa kita jumpai kucing-kucing yang berkeliaran di pojok-pojok masjid tua dengan berbagai macam makanan yang disediakan oleh penduduk setempat.

Pengaruh Kucing dalam Seni Islam.

Pada abad 13, sebagai manifestasi penghargaan masyarakat islam, rupa kucing dijadikan sebagai ukiran cincin para khalifah, termasuk porselen, patung hingga mata uang. Bahkan didunia sastra, para penyair tak ragu untuk membuat syair bagi kucing peliharaannya yang telah berjasa melindungi buku-buku mereka dari gigitan tikus dan serangga lainnya.

Kucing yang memberi inspirasi bagi para sufi.

Seorang Sufi ternama bernama ibnu bashad yang hidup pada abad ke sepuluh bercerita, suatu saat ia dan sahabat-sahabatnya sedang duduk santai melepas lelah di atas atap masjid kota kairo sambil menikmati makan malam. Ketika seekor kucing melewatinya, Ibnu bashad memberi sepotong daging kepada kucing itu, namun tak lama kemudian kucing itu balik lagi, setelah memberinya potongan yang ke dua, diam-diam ibnu bashad mengikuti kearah kucing itu pergi, hingga akhirnya ia sampai disebuah atap rumah kumuh, dan didapatinya si kucing tadi sedang menyodorkan sepotong daging yang diberikan ibnu bashad kepada kucing lain yang buta kedua matanya. Peristiwa ini sangat menyentuh hatinya. hingga ia menjadi seorang sufi sampai ajal menjemputnya pada tahun 1067.

Ada juga cerita tentang seorang sufi di Iraq yang bernama Shibli, ia bermimpi dosa-dosanya diampuni setelah menyelamatkan nyawa seekor anak kucing dari bahaya. Selain itu, kaum sufi juga percaya, bahwa dengkuran nafas kucing memiliki irama yang sama dengan dzikir kalimah Allah.

Cerita yang dijadikan sebagai sauri tauladan

Salah satu cerita yang cukup mahsyur yaitu tentang seekor kucing peliharaan yang dipercaya oleh seorang pria, untuk menjaga anaknya yang masih bayi dikala ia pergi selama beberapa saat. Bagaikan prajurit yang mengawal tuannya, kucing itu tak hentinya berjaga di sekitar sang bayi. Tak lama kemudian melintaslah ular berbisa yang sangat berbahaya di dekat si bayi mungil tersebut. Kucing itu dengan sigapnya menyerang ular itu hingga mati dengan darah yang berceceran.

Sorenya ketika si pria pulang, ia kaget melihat begitu banyak darah di kasur bayinya. Prasangkanya berbisik, si kucing telah membunuh anak kesayangannya! Tak ayal lagi, ia mengambil pisau dan memenggal leher kucing yang tak berdosa itu.
Setelah melakukan aksi keji itu, tiba-tiba sang pria tersebut tersentak kaget, bagaimana tidak! ia melihat anaknya terbangun, dengan bangkai ular yang telah tercabik di bawah tempat tidur anaknya. melihat itu, si pria menangis dan menyesali perbuatannya setelah menyadari bahwa ia telah membunuh kucing peliharaannya yang telah bertaruh nyawa menjaga keselamatan anaknya. Kisah ini menjadi refleksi bagi masyarakat islam di timur tengah untuk tidak berburuk sangka kepada siapapun.

Adakah manfaat kucing bagi dunia ilmu pengetahuan?

Salah satu kitab terkenal yang ditulis oleh cendikia muslim tempo dulu adalah kitab hayat al hayaawan yang telah menjadi inspirasi bagi perkembangan dunia zoologi saat ini, Salah satu isinya mengenai ilmu medis, banyak para dokter muslim tempo dulu yang menjadikan kucing sebagai terapi medis untuk penyembuhan tulang, melalui dengkuran suaranya yang setara dengan gelombang sebesar 50 hertz. Dengkuran tersebut menjadi frekuensi optimal dalam menstimulasi pemulihan tulang.

Tak hanya ilmu pengetahuan, bangsa barat juga banyak membawa berbagai jenis kucing dari timur tengah, hingga akhirnya kepunahan kucing akibat mitos alat sihir dapat terselamatkan. (dari berbagai sumber)

Indian Dhoti




The dhoti is the most traditional of all dresses for men in India. If you ever see photographs of Indian men before, during and soon-after the independence era, you will find many of them wearing the dhoti dress teemed with a kurta. Earlier the dhoti used to be a casual daily wear of the Indian men. But with modernization of our society, it steadily relegated to being just formal clothing in India, though there are still people especially in the rural belts for whom dhoti is the regular clothing attire.

The dhoti is a rectangular piece of unstitched cloth about five yards long, wrapped about the waist and the legs and knotted at the waist. It is known by different names like Laacha in Punjabi, Mundu in Malayalam, Dhuti in Bangla, Veshti in Tamil, Pancha in Telugu, Dhotar in Marathi and Panche in Kannada. In north India, the dhoti is worn in combination with a kurta top, which a long loose fitting shirt. The dhoti kurta dress is called dhuti panjabi in east India. This dhoti dress is different from a lungi as the cloth of the latter is stitched to form a circle.

The dhoti dress may have lost its popularity in modern day India, but it is still worn with a lot of dignity by the many prominent senior citizens, politicians, musicians, dancers and others. Apart from being worn on all important government and family occasions, the dhoti kurta is also allowed to be donned in post upscale clubs, which normally stipulate very stern dress code for guests. The one prominent Indian citizen who gets all credit for popularizing this attire beyond the Indian borders is Mahatma Gandhi.

There are various styles of wearing the Indian dhoti. For instance, the Bengali men usually make pleats in their dhoti. In south India, the dhoti wearers added the angavastram to their attire, which is an extra piece of unstitched cloth kept on the shoulders. For convenience purpose, many south Indian men fold their dhoti in half and tuck it at the waist so that it reaches only till the knees. In certain Indian communities in Rajasthan, wearing the dhoti-kurta is mandatory.

Interlok : “rambut tidak putus, tepung tidak berselerak”

FRIDAY, MARCH 25, 2011

By Syed Akbar Ali.
Few people realise that Sasterawan Negara Y.Bhg. Datuk Abdullah Hussain wrote the Interlok novel 40 years ago circa 1971. At that time perhaps the most rabidly race centric Malay outfit in existence in Malaysia was the PAS. 1971 was also just a few years before the establishment of race centred ABIM, in its original manifestation.

That was a time when it was ok for the Tunku to hold a glass of whiskey when meeting the Press and even Government functions served alchohol. Women did not wear tudung, Policemen, school masters and everyone else sensibly wore shorts everywhere without raising any comment. That was another country we lived in. It was not the Malaysia of today. The rise of PAS, ABIM and the other religion (and race) centred opportunists has had significant influence on the nation. Whether that influence is good or bad, I will let you the reader to decide (for today only).

Fastforwarding to 2011, where there are accusations from some Tamils that the author of Interlok and relevant sections of the Malay (literary) community that supports him were or are racists is a latter day manifestation of what the country has become today. Do note that the Chinese community has not raised any issues over this novel, despite a Chinese being a main character too.

“Watak Cing Huat digambarkan sebagai seorang anak muda Tionghua yang bekerja keras meneruskan perniagaan bapanya sehingga menjadi kaya raya dan dihormati oleh masyarakat.“


Also in the novel, the Malay character Seman addresses the Indian character Maniam as “Tuan”.

.

“…sebagai penghormatan kepada Maniam, Seman memanggil Maniam dengan panggilan tuan.”

.

If the Malay author was racist, it would seem that Cing Huat the Chinese character and Maniam the Indian character escaped his prejudice.

.

The Government has gone to some extent to settle this issue. The language used by the Deputy Prime Minister Tan Sri Muhyuddin Yassin in his answer in Parliament has some class by itself :

.

”Bagai menarik rambut dalam tepung, rambut tidak putus, tepung tidak berselerak. Dalam menangani isu novel Interlok, Kementerian mengambil langkah yang amat teliti supaya sebarang keputusan yang dibuat adalah rasional, munasabah dan dapat diterima oleh semua pihak.”

.

The special Cabinet Appointed Panel had three representatives from the Indian community namely Prof. Dr. NS Rajendran, Encik G. Krishnabahawan and Encik Uthaya Sankar.

.

The offending word ”kasta Paria” has been replaced with the phrase ”golongan yang sama”.

.

There were 106 other points raised, of which 19 have been adopted. Among the changes include putting the author’s name on the book cover (Why wasn’t that done earlier? As an author the first thing I want on my books is my name)

.

The Tamil word ”tali” is to be spelt ”taali”, ”papa” changed to ”appa” and ”cawat” replaced with ”dhoti”.

.

I find ‘dhoti’ a little off the mark though. I believe the word ’dhoti’ is Hindustani (please correct me if I am wrong). I don’t think it is Tamil. ‘Cawat’ means loincloth, common garb in India until today and in pre Merdeka Malaya among estate workers.

.

As late as the 1960s, I recall the ’coconut pluckers’ who used to go around the houses in Ipoh, some of whom would pakai ’cawat’ when they climbed our coconut trees to pluck coconuts.

.

Here is a really fantastic picture of estate coolies on Carey Island in pre war Malaya. They are wearing loincloths or 'cawat' in Malay. I have seen those type of 'kereta lembu' with those huge whels, when I was a small boy in Perak.

.


.

Here is a picture of an Indian dhoti, which is also worn by Brahmins and other castes in India.

.



.

There were other issues raised about cows being holy, Indian wedding rituals that were deemed tiresome (in the book) and stuff.

.

What I found more relevant was the insistence by the Tamils that the word ”tuhan” in the Interlok book be changed to ”dewa”. At a time when others are clamoring to share the word ’Allah’ (ostensibly for Ibans and Kadazans who neither understand the Arabic ”Allah” nor grasp fully the Malay ”tuhan”) the Tamil objection here is more honest. They don’t want Hindu Tamil children to get confused by the Malay ”tuhan” which in the Peninsula also indicates ”Allah”. Maybe they are afraid silap-silap nanti 'masuk Melayu' pula.

.

As an author I do feel sad that a writer has had his book mangled by politicians. The loudest voices in this affair has come from unemployed politicians. This is just another time wasting political play.


Sunday, March 27, 2011

Yemenis admire Dr M and Malaysia

Sunday March 27, 2011

Story by SHAHANAAZ HABIB
Photos by GLENN GUAN

And the 28-year-old tailor outdid himself. He stuck a number of small Yemeni flags on his head and wore a protest bandana as a tie.

The tailoring business has been a bit slow of late because people are uncertain of what would happen in the future so they have been holding on to their money.

Anti-government protesters chanting slogans and holding up placards during a demonstration at Tahrir Square demanding the resignation of President Ali Abdullah Saleh in Sana'a, Yemen, yesterday. - Glenn Guan/The Star

So Mohamed decided to come to the square and sell anti-government bandanas, caps, stickers and the country's flags.

“The protests are outpourings coming from the heart. So people are buying all these things as keepsakes to remember the moment,” he said.

One of those with anti-government protest souvenirs is 29-year-old Marwan Amery.

“It is a youth revolution. We want to make Yemen just like Malaysia.

“In just 10 years, we have seen how Malaysia has developed rapidly economically, in education, finance, tourism, and industries.

“Malaysians have gone all over the world to study and have come to their country with good thinking and good ideas' to contribute.

“We have watched Malaysia blossom and we want that for our own future. Is that too much to ask,” he said.

Marwan believed Malaysians owed it to all Tun Dr Mahathir Mohamad, who during his 22-year tenure as Prime Minister, transformed Malaysia to the position it is today.

“Are Dr Mahathir Mohamad's ancestors from Yemen by any chance? Could they have come from Hadramont (in Yemen)? A lot of Malaysians have blood ties there,” asked a hopeful Marwan.

Yemenis as a whole have high regard for Malaysia and in particular Dr Mahathir.

Marwan wishes his own president, Ali Abdullah Saleh, who ruled Yemen for 32 years, would have done half as much for his country.

“Saleh has done nothing for us,” he said.

For him, Saleh and Libyan leader Muammar Gaddafi are two sides of the same coin.

“But at least Gaddafi is consistent so his people know what they are dealing with.

“But Saleh is sly. He says one thing and does something else and he changes his word all the time.

“I think if Saleh is left to continue, in the future he can be as brutal as Gaddafi has been to his people. That is why we must get him out now,” he said.

It has been seven weeks now since the anti-government protesters have camped out at the square with the aim of kicking their president out.

And they seem to be closer to reaching their goal as ministers, ambassadors, and key army figures have now backed their protest, after the March 18 deadly attack when snipers on rooftops, loyal to the regime, shot at unarmed protesters, killing 56 and injuring hundreds of others.

Amar Attam is also keen on seeing the end of Saleh.

He said all the concessions Saleh was trying to make now including an early exit, early elections, offers of a dialogue, making sure he hands over power to “safe hands” were pointless.

“He didn't do good in his younger years and ruling the country for 32 years ... So I don't expect him to change and do good now in his later years.

“He is a liar and a murderer. Why couldn't we have a president like Dr Mahathir Mohamad?”

When pointed out that Dr Mahathir had little tolerance for anti-government street protests, Amar retorted: “If we had a democratic country and a leader like Dr Mahathir who cared for his people and made sure the country and its people prospered, then we would have no need for street protests!”